"Ini buat bang roy." kata Deni Septiyanto
tiba-tiba sambil menyerahkan gambar yang baru saja selesai dilukisnya
di atas kertas itu kepada saya. Saya mengambil lukisan itu dan
memperhatikannya dengan seksama. "Itu wajah bang roy." lanjutnya lagi
kepada saya dengan suara yang pelan dan dalam. Saya tersentak mendengar
kata-katanya yang terakhir itu. Tak bisa saya pungkiri, saya memang
melihat wajah saya sendiri disitu; sebentuk wajah yang selalu saya temui
dan saya hindari setiap kali saya bercermin. Sebuah wajah yang
terkelupas dari topengnya sendiri dan mengabarkan segala isinya dengan
telanjang.
Dan saya menggigil. Dan saya menggigil.
Dan saya menggigil. Dan saya menggigil.
Karya : Roy Julian
Ketika 20 Februari 2014

